Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi?

Eldepryl.Us – Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi?, Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi?

Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi?

Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi?

Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi? – Nasib jutaan kucing yang dibuang atau hilang berakhir di tempat penampungan, dan kurungan ini berdampak besar pada kesehatan mental mereka.

Di seluruh dunia, jutaan kucing ditempatkan di penampungan penyelamatan sementara. Kucing-kucing ini yang dibuang, hilang dan terlantar atau mendapatkan kekerasan, di dunia.

Banyak yang menanti untuk ditempatkan di rumah baru, tetapi mereka akan sulit untuk dirumahkan kembali. Sebagian besar kucing-kucing ini telah melewati situasi yang penuh tekanan, dan tidak membuat mereka menjadi hewan yang lucu, dan menjadi kesayangan keluarga.

Sejumlah dari kucing-kucing ini bertingkah laku sering mendesis, mencakar dan menggigit. Banyak diantaranya membutuhkan rehabilitasi secara perlahan selama berhari-hari atau berbulan-bulan.

Beberapa diantaranya tidak kehilangan rasa khawatir mereka terhadap orang asing. Hewan yang menghuni tempat penampungan dalam waktu yang lama dapat mengalami kesehatan mental.

Untuk memberikan kesempatan yang terbaik bagi kucing, perawatnya sebisa mungkin harus memastikan hewan itu untuk tinggal di tempat yang bebas stres, demi mencegah kesehatan mereka semakin memburuk.

Ini artinya kita harus memahami bagaimana dan mengapa kucing menjadi stres.

Sebuah tim yang tertarik dengan kesejahteraan kucing telah mencari tahu bagaimana perilaku kucing-kucing ketika mereka pertama kali memasuki kurungan. Mereka ingin memahami bagaimana situasi ini dapat memicu tekanan pada kucing.

Untuk itu, mereka mengamati 20 ekor kucing rumah, sebagian besar yang didapat oleh pemiliknya ketika masih bayi.

Pertama mereka mengevaluasi setiap kucing dengan memberi mereka skor terendah sampai tertinggi. Kemudian mereka memantau bagaimana perilaku kucing rumah ini ketika mereka ditempatkan di tempat penampungan.

Penulis utama Lydia Rehnberg dari La Trobe University di Melbourne, Australia telah menghabiskan waktu bekerja di tempat penyelamatan kucing. Dia menyaksikan, secara langsung, bagaimana perbedaan para perawat dapat mensejahterakan seekor kucing.

Melihat bagaimana perilaku kucing ketika dikurung, tim menemukan bahwa kucing yang stres menunjukkan sebuah pola pada kebiasaan mereka.

“Meskipun kucing-kucing memiliki akses ke ruangan yang besar, mereka hampir secara ekslusif memilih untuk menghabiskan waktu mereka di ‘rumah’ kucing (sebuah tempat bersembunyi) atau tempat pendakian yang vertikal,” jelas Rehnberg.

Semakin stres seekor kucing, semakin lama waktu yang mereka habiskan di ‘rumah’ kucing. Kucing-kucing yang lebih percaya diri dan santai menghabiskan waktu lebih banyak di bagian puncak di tempat yang tinggi.

“Individu yang mengalami stres tingkat tinggi tampaknya tidak ingin melakukan sesuatu tetapi menghindari dari itu semua, di mana kucing yang tidak terlalu stres terlihat menikmati hinggap di tempat yang tinggi dan mengamati lingkungan mereka dari atas,” kata Rehnberg.

Tim menemukan bahwa kucing dengan tingkat stres yang tinggi menjadi sangat pasif. Seringkali, mereka tidak melakukan sesuatu. “Seekor kucing yang memilki skor tingkat stres yang tinggi hampir menekan semua kebiasaan normalnya dan dapat meringkuk di satu tempat selama berjam-jam,” jelas Rehnberg.

Berbeda jauh dengan kucing dengan skor stres yang rendah, yang berperilaku normal. Biasanya, kucing-kucing suka bermain dan hewan yang suka berpetualang. Banyak yang secara aktif melakukan kontak sosial dengan manusia atau kucing lainnya.

Kucing-kucing yang mencakar atau mengeong dengan keras juga memiliki tingkat stres yang rendah. Kucing yang tampak “menakutkan” ini ternyata memiliki kadar stres yang lebih rendah dibandingkan mereka yang lebih pasif.

“Banyak orang yang berpikir, secara intuitif, bahwa kucing-kucing yang protes dengan keras lebih mengalami stres dan kucing yang diam meringkuk dipojokan itu ‘baik-baik saja’, tetapi itu kebalikannya,” kata Rehnberg.

Tim mempublikasikan penemuan mereka dalam jurnal Applied Animal Behaviour Science.

Untuk mengetahui bagaimana kucing-kucing mendapatkan manfaat dari intervensi, tim merancang perawatan lanjutan dan interaksi dengan separuh dari kucing-kucing yang digunakan dalam studi mereka.

Kucing-kucing yang menerima perawatan ekstra mengalami tekanan yang lebih rendah di hari kedua mereka dalam kurungan.

Ini menunjukkan para pemilik dan perawat dapat mengurangi tekanan yang dialami kucing dengan melakukan sesuatu yang sangat sederhana.

Termasuk mendekati seekor kucing secara pelan-pelan, menunduk untuk menyamai tinggi mereka, membiarkan mereka untuk mengenali bau Anda sebelum menyentuhnya, dan bahkan berbicara dengan suara positif dan ramah.

“Ini tampaknya sepele tetapi kucing-kucing itu merupakan hewan yang sensitif yang dapat merasakan sesuatu yang tidak kentara dari lingkungan mereka, “kata Rehnberg.

Kucing-kucing biasa dikurung di sebuah tempat yang kecil, tetapi akan membahayakan jika dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama. Banyak diantaranya berada di tempat penampungan selama beberapa bulan dan itu akan memberikan dampak yang tidak terelakan bagi kesehatan fisik dan mental kucing-kucing.

Kurungan seharusnya hanya ditempati dalam jangka waktu sependek mungkin, kata tim.

Bagaimanapun, ini tidak selalu memungkinan. Atau tidak cukup permintaan untuk merumahkan kembali seluruh kucing yang menghuni tempat penyelamatan. Mereka yang tidak diinginkan seringkali dibuang.

Untuk mencegahnya, Rehnberg mengatakan pemilik kucing, jika mungkin, harus menetralkan kucing mereka. Langkah ini mengurangi kesempatan yang mereka, atau mereka yang tidak diinginkan, akan berakhir di sebuah penampungan penyelamatan kucing.
Terima Kasih Atas kunjungan anda di halaman  Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi?, Jangan lupa untuk Membookmars Halaman ini jika  Jika Kucing Lucu Stres, Apa Yang Terjadi? berguna untuk anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *